Wednesday, 26 November 2014

Tanohlinge news 27-11-2014 - Budaya yang tidak etis ini terjadi di negara-negara dimana tuntutan kehidupan lebih diutamakan daripada tuntutan moral. Banyak di antara gadis-gadis muda yang kurang beruntung yang menjadi mangsa seksual atas tuntutan kehidupan mederen ini.

Menurut salah satu koran di Denmark ”Metroexpres”, banyak anak gadis di kota kota besar yang siap memberikan blowjob hanya untuk mendapatkan parfum, tas, baju yg bermerek malah mereka mau buat perbuatan yang amoral itu hanya untuk mendapatkan sebotol beer atau sebatang rokok.

Nada yang sama dikatakan oleh Gyda Heding, ada sebuah institusi di Kopenhagen yang menawarkan pekerjaan yang tidak bermoral ini, ”Group Gadis muda” (Pigegruppen). Banyak diantara mereka masih berumur 16 sampai 20 tahun.

Dari segi budaya memang bukanlah mudah bagi kita yang datang dari negeri yang beraga Islam dan punya budaya yang sama sekali tak bisa nyambung dengan budaya orang Europa ini meras gelisah dan resah terhadap perkembangan anak-anak disini.

”Untung saja masyarakat Aceh yang ada di Denmark telah antisipasi terhadap hal hal yang tidak menyenangkan ini. Salah satu caranya adalah dengan menanamkan nilai agama, budaya dan moral ke Acehan di usia dini. (red)

Menurut berita yang ada didalam koran itu, mereka gadis gadis itu melakukan perbuatan amoral itu disebabkan ingin memberikan imbalan terhadap pemberian yang mereka terima. ”Noget for Noge” (sesuatu untuk sesuatu). Maka tidak heran hal itu sangat susah untuk di deteksi, karena mereka melakukannya secara suka sama suka.

Sejak tahun 2004 ada penelitian tentang bagaimana luas fenomena yang dikenal sebagai prostitusi secara tak langsung itu, penelitian itu di lakukan oleh Save the Children mendapati bahwa prostitusi secara tak langsung itu sangat tidak jelas keberadaannya dan tidak bisa dikendalikan malam perbuatan itu makin bertambah.

Banyak juga anak gadis yang menjual diri di media sosial, biasanya anak gadis ini punya link tertentu untuk mendapatkan pasangan mereka. Orang yang menggunakan jasa ini bukan saja dari kalangan lekaki muda, tapi kebanyakannya adalah lelaki dewasa yang menikmati buah muda ini.


Semoga saja penomena ini tidak menular ke anak anak kita di orang Aceh, walau sebenarnya, mengaku atau tidak di Aceh sudah ada fenomena ini. Harapan kita semoga orang tua, petua agama dan pemerintah agar cepat  mengantisipasi perbuatan amoral ini tidak menjadi trend kepada gadis gadis muda di Aceh. (Redaksi Tanohlinge)
Tanohlinge Nesw – 27-11-2014 – Sebenarnya tak banyak orang yang mau bekerja dengan NGO yang bersipat menyelamatkan bumi dari kehancuran, tapi rupanya masih ada juga yang mau bekerja mejaga kelestarian alam, salah satunya adaæah Irwan Yoga, anak pertama dari lima bersaudara ini banyak meluangkan waktunya untuk survey ke hutan belantara, dimana tidak tertutup kemungkinan bahaya yang harus dihadapinya.

Irwan no 3 dari kanan bersama teman-temannya
Tapi niat baiknya untuk menjaga kelestarian hutan di Aceh tidak membuat dia dan teman temannya merasa takut sedikitpun terhadap ancaman binatang buas.

Kegiatan ini dia lakukan karena hoby dan juga membantu WWF untuk menjaga kelestarian alam Aceh dan meneliti hewan yang di lidungi, seperti hewan badak, harimau, gajah dan orang huta yang berada di hutan bener meriah dan di sekitar Takengon.

Ternyata kegiatan ini sudah Irwan tekuni sejak dia berada di bangku kuliah di Banda Aceh tahun tahun 1994, dimana dia bergerak dan menekuni di bidang lingkungan.

Selain kegiatan survey ke hutan, Irwan juga di ajak oleh team pencinta alam Gayo untuk menjelajahi hutan dan gunung yang ada di Aceh Tengah dan sekitarnya.

Sedangkan kerjasama dengan pemerintah sangatlah susah, sebab pemerintah Aceh, khusunya Aceh Tengah dan Bener Meriah, tak ada niat untuk ikut membantu dalam program penyelamatan hutan ini, sebab itu Irwan lebih memelih bekerja secara pribadi dan di bawah NGO WWF.

Semoga Pemerintah Aceh Tengah dan Bener Meriah mau membantu kegiatan Irwan dan teman temannya ini, karena kalau bukan kita yang menjaga khazanah negeri kita, siapa lagi yang bisa kita harap.


Tanohlinge: Johan Makmor Habib
Tanohlinge news – 26-11-2014 - An incoming black hole would be invisible until it sucked material from the planets to give it a glowing accretion disk.

How likely is it that a black hole could enter the Solar System? Well, you’d have to define likely; it is more likely that the Earth will get swallowed by a black hole than, say, winning the lottery ten times in a row, but less likely than being struck by lightning. In fact the odds of a black hole devouring our planet are estimated at one in a trillion.

There are two predominant types of black hole in the universe. The first are supermassive black holes found churning at the centre of galaxies. These don’t really pose any threat to us, until our galaxy collides with another like the Andromeda galaxy in a few billion years.

The other type are interstellar black holes, those formed when a large star goes supernova. These can be just a dozen or so miles across, with one of the closest to us being Cygnus X-1 about 6,000 light-years away measuring 44 kilometres (27 miles) in diameter. If a black hole like Cygnus X-1 were to stray near the Solar System, within a light-year or so, its gravity would cause chaos. The orbits of the outer planets and comets would be significantly and possibly disastrously altered, and this would in turn threaten the orbits of the inner planets and even the Sun. However, if the black hole passed directly through the Solar System, then things get immeasurably worse.

At a distance 100,000 times greater than that between Earth and the Sun, the black hole would pass through the Oort Cloud. It’s possible that this would send a large number of comets hurtling inwards towards Earth and the other planets. Aside from this influx of comets, however, things wouldn’t seem so awry at first.

As the black hole made its way into the Solar System, it would be invisible to us aside from a slight gravitational lensing effect on distant stars. It’s not until it started to tear gas from the outer gas giant planets that a noticeable accretion disk, a region of super-heated dust and gas, would form around the black hole. Now, the terrifying power of the black hole is all too visible to us on Earth.

For an outsider looking in the event would probably be pretty interesting. For us residents on Earth though, uh, not so much...
For an outsider looking in the event would probably be pretty fun to watch. For us residents on Earth though, uh, not so much…
Despite such a black hole being several thousand times smaller than any of the planets, its mass would be several thousand times greater. Thus, any planets unfortunate enough to be caught in its path would be devoured, even those as large as Jupiter. If we couldn’t see the black hole yet, we’d certainly notice the planets suddenly being torn limb from limb.

By the time the black hole reached the asteroid belt between Mars and Jupiter, things would look bleak for us. The intense gravitational pull of the black hole would have torn our planet asunder, causing devastating earthquakes and supervolcanoes the likes of which humanity has never witnessed before. Upon reaching Earth’s orbit our planet is all but doomed, reduced to a smoldering uninhabitable magma-laden rock, with Mercury and Venus soon following suit.

The final battle, between the black hole and the Sun, wouldn’t be quite so one-sided. A gravitational tug of war would ensue and, depending on the initial mass of the black hole, there’s a chance the Sun could survive in some shape or form. Unfortunately, the most likely scenario is that, like the planets, the Sun is ripped apart and joins the planets in the swirling mass of super-heated dust and gas roaring around the black hole. This accretion disk would extend hundreds of thousands or perhaps millions of miles from the relatively tiny black hole at its centre, replacing our Solar System with a circular inferno of the dead inhabitants it once housed.

It’s fortunate, then, that the likelihood of this whole situation occurring is pretty minimal. If you do happen to win the lottery ten times in a row, though, then please let us know so we can duly begin to panic. by Jonathan O'Callaghan

Article from spaceanswers



Blangkejeren | Tanohlinge news – 26-11-2014 Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar Tari Saman Massal yang akan diikuti oleh 5.005 penari. Kegiatan tersebut dirangkai dengan Pameran benda-benda bersejarah Gayo dan seminar mengenai asal usul Budaya Gayo itu.Kegiatan yang dirangkai dengan peresmian Bandara Senubung ini, dipusatkan di Stadion Seribu Bukit.
Persiapan Saman Gayo
Setelah menempuh perjalanan udara selama 45 menit dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Wakil Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf beserta rombongan tiba di Bandara Senubung tepat pukul 10:45 WIB, (Senin, 24/11/2014).
Di Bandara, Wagub diterima langsung oleh Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim S Sos, serta seluruh pejabat dijajaran Pemerintah Kabupaten Gayo Lues serta dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkorpimda) Gayo Lues.
Sementara itu, ratusan masyarakat yang sudah sejak pagi hari berada di Bandara Senubung untuk menyaksikan pendaratan pertama pesawat komersil di daerah mereka langsung menuju ke pesawat untuk melihat lebih dekat apa-apa saja yang terdapat di dalam pesawat tersebut.
Hari ini ada dua pesawat yang mendarat perdana di Bandara tersebut, yang pertama mendarat adalah pesawat Susi Air berkapasitas 16 penumpang yang mengangkut anggota DPR-RI asal Aceh dari Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara dan Pesawat Jenis MAV yang mengangkut rombongan Wakil Gubernur.
Setelah mengikuti prosesi Peusijuek atas peremian Bandara Senubung, Wagub beserta rombongan, di dampingi oleh Bupati Gayo Lues, langsung menuju ke Stadion Seribu Bukit untuk membuka secara resmi Pagelaran Tari Saman Massal dan penyerahan duplikat sertifikat dari Unesco.
Tiba di stadion, Muzakir Manaf disambut oleh ribuan masyarakat dan peserta tari Saman Massal yang telah memadati lokasi acara dengan Salawat Badar.Panasnya matahari yang telah menemani ribuan penari dan penonton tidak membuat mereka beranjak dari lokasi acarademi menyaksikan pemecahan rekor dunia tersebut.
Dalam sambutan singkatnya, Wagub menjelaskan, Pemerintah Aceh sangat mendukung kegiatan yang digagas oleh Pemkab Gayo Lues ini karena kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembangunan daerah ini.
“Rangkaian kegiatan ini merupakan langkah dan upaya kita untuk meningkatkan pembangunan di Aceh, khususnya pembangunan di Kabupaten Gayo Lues ini,” ujar Muzakir Manaf.
Wagubmemaparkan, pengakuan dari United United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), yang secara resmi menyatakan bahwa Tari Saman  merupakan warisan budaya asli dari Tanah gayo, adalah suatu hal yang istimewa.
“Unesco merupakan lembaga resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dikenal sangat berhati-hati dalam memberi pengakuan terhadap sebuah cagar budaya.  Ada banyak negara yang mengajukan permohonan kepada Unescountuk mendapatkan pengakuan atas warisan budaya mereka, tapi Unesco tidak sembarangan memberi pengakuan tersebut.Mereka harus menelusuri asal usul budaya itu, keasliannya, keunikannya serta nilai-nilai sejarah yang ada di dalamnya,” terang Wagub.
Indonesia sendiri baru mendapatkan enam pengakuan dari Unesco untuk warisan budaya kategori tak benda, yaitu  Wayang, Keris, kain Batik, Angklung, Subak di Bali dan Tari Saman yang merupakan  tarian rakyat dari Tanah Gayo. Pengakuan Unesco untuk Tari Saman ini disampaikan dalam sebuah pertemuan di Bali pada 24 November 2011 atau tepatnya tiga tahun yang lalu.
Sebagaimana diketahui bersama, pada September lalu, gubernur bersama sejumlah pejabat Pemerintah Aceh diundang oleh Unescodan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menerima serifikat pengakuan dari Unesco.
“Karena itu, pada hari ini saya datang ke Gayo Lues untuk menyerahkan setifikat tersebut kepada masyarakat Gayo, yang dalam hal ini diwakili Bupati Gayo Lues. Sertifikat itu memang hanya selembar kertas dari Unesco. Tapi di balik semua itu, ada pesan moral yang harus kita pikul ke depan, yaitu tanggungjawab untuk melestarikan dan mengembangkan Tari Saman agar tetap menjadi simbol dan  identitas bangsa,” tambah Mualem.
Sebagai mana kita ketahui, sejarah Tari Saman sangat erat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di Aceh. Tari ini disebut Tari Saman karena  diciptakan seorang Ulama bernama Syekh Saman pada abad 14 Masehi.
Awalnya  tarian ini merupakan permainan rakyat yang kerap ditampilkan dalam pesta adat dan budaya di tanah Gayo. Karena sangat menarik, tari ini kemudian dikembangkan oleh penciptnya dengan diperkaya syair dan pujian kepada Allah SWT dan kemudian digunakan sebagai media syiar Islam.
Seiring perkembangan zaman, Tari Saman kini menjadi salah satu seni budaya yang banyak dipelajari di sekolah-sekolah.Bukan hanya di Aceh, tapi juga di luar Aceh dan bahkan di luar negeri.  Begitu menariknya, sehingga Tari Saman kerap  menjadi icon Indonesia dalam berbagai festival budaya dunia.
“Pengakuan ini tentu membanggakan kita semua, sekaligus menjadi cemeti agar kita lebih peduli dengan seni budaya lokal. Dengan pengakuan ini, kita akan mendapatkan bantuan teknis dari Unesco untuk kepentingan pelestarian Tari Saman. Yang lebih penting,  pengakuan ini merupakan simbol eksistensi seni budaya dan kekayaan alam Indonesia yang menjadi identitas jati diri bangsa,” tambah Mualem.[Rd] (sumber - lintasgayo)

Katagori Berita

Budaya

Arsip Web Linge

Berita Terbaru

Sahabat Tanhoh Linge

Kata kata bijak

"Education is the most powerful weapon which you can use to change the world"
Nelson Mandela