Wednesday, 26 November 2014

Tanohlinge news 27-11-2014 - Budaya yang tidak etis ini terjadi di negara-negara dimana tuntutan kehidupan lebih diutamakan daripada tuntutan moral. Banyak di antara gadis-gadis muda yang kurang beruntung yang menjadi mangsa seksual atas tuntutan kehidupan mederen ini.

Menurut salah satu koran di Denmark ”Metroexpres”, banyak anak gadis di kota kota besar yang siap memberikan blowjob hanya untuk mendapatkan parfum, tas, baju yg bermerek malah mereka mau buat perbuatan yang amoral itu hanya untuk mendapatkan sebotol beer atau sebatang rokok.

Nada yang sama dikatakan oleh Gyda Heding, ada sebuah institusi di Kopenhagen yang menawarkan pekerjaan yang tidak bermoral ini, ”Group Gadis muda” (Pigegruppen). Banyak diantara mereka masih berumur 16 sampai 20 tahun.

Dari segi budaya memang bukanlah mudah bagi kita yang datang dari negeri yang beraga Islam dan punya budaya yang sama sekali tak bisa nyambung dengan budaya orang Europa ini meras gelisah dan resah terhadap perkembangan anak-anak disini.

”Untung saja masyarakat Aceh yang ada di Denmark telah antisipasi terhadap hal hal yang tidak menyenangkan ini. Salah satu caranya adalah dengan menanamkan nilai agama, budaya dan moral ke Acehan di usia dini. (red)

Menurut berita yang ada didalam koran itu, mereka gadis gadis itu melakukan perbuatan amoral itu disebabkan ingin memberikan imbalan terhadap pemberian yang mereka terima. ”Noget for Noge” (sesuatu untuk sesuatu). Maka tidak heran hal itu sangat susah untuk di deteksi, karena mereka melakukannya secara suka sama suka.

Sejak tahun 2004 ada penelitian tentang bagaimana luas fenomena yang dikenal sebagai prostitusi secara tak langsung itu, penelitian itu di lakukan oleh Save the Children mendapati bahwa prostitusi secara tak langsung itu sangat tidak jelas keberadaannya dan tidak bisa dikendalikan malam perbuatan itu makin bertambah.

Banyak juga anak gadis yang menjual diri di media sosial, biasanya anak gadis ini punya link tertentu untuk mendapatkan pasangan mereka. Orang yang menggunakan jasa ini bukan saja dari kalangan lekaki muda, tapi kebanyakannya adalah lelaki dewasa yang menikmati buah muda ini.


Semoga saja penomena ini tidak menular ke anak anak kita di orang Aceh, walau sebenarnya, mengaku atau tidak di Aceh sudah ada fenomena ini. Harapan kita semoga orang tua, petua agama dan pemerintah agar cepat  mengantisipasi perbuatan amoral ini tidak menjadi trend kepada gadis gadis muda di Aceh. (Redaksi Tanohlinge)
Tanohlinge Nesw – 27-11-2014 – Sebenarnya tak banyak orang yang mau bekerja dengan NGO yang bersipat menyelamatkan bumi dari kehancuran, tapi rupanya masih ada juga yang mau bekerja mejaga kelestarian alam, salah satunya adaæah Irwan Yoga, anak pertama dari lima bersaudara ini banyak meluangkan waktunya untuk survey ke hutan belantara, dimana tidak tertutup kemungkinan bahaya yang harus dihadapinya.

Irwan no 3 dari kanan bersama teman-temannya
Tapi niat baiknya untuk menjaga kelestarian hutan di Aceh tidak membuat dia dan teman temannya merasa takut sedikitpun terhadap ancaman binatang buas.

Kegiatan ini dia lakukan karena hoby dan juga membantu WWF untuk menjaga kelestarian alam Aceh dan meneliti hewan yang di lidungi, seperti hewan badak, harimau, gajah dan orang huta yang berada di hutan bener meriah dan di sekitar Takengon.

Ternyata kegiatan ini sudah Irwan tekuni sejak dia berada di bangku kuliah di Banda Aceh tahun tahun 1994, dimana dia bergerak dan menekuni di bidang lingkungan.

Selain kegiatan survey ke hutan, Irwan juga di ajak oleh team pencinta alam Gayo untuk menjelajahi hutan dan gunung yang ada di Aceh Tengah dan sekitarnya.

Sedangkan kerjasama dengan pemerintah sangatlah susah, sebab pemerintah Aceh, khusunya Aceh Tengah dan Bener Meriah, tak ada niat untuk ikut membantu dalam program penyelamatan hutan ini, sebab itu Irwan lebih memelih bekerja secara pribadi dan di bawah NGO WWF.

Semoga Pemerintah Aceh Tengah dan Bener Meriah mau membantu kegiatan Irwan dan teman temannya ini, karena kalau bukan kita yang menjaga khazanah negeri kita, siapa lagi yang bisa kita harap.


Tanohlinge: Johan Makmor Habib
Tanohlinge news – 26-11-2014 - An incoming black hole would be invisible until it sucked material from the planets to give it a glowing accretion disk.

How likely is it that a black hole could enter the Solar System? Well, you’d have to define likely; it is more likely that the Earth will get swallowed by a black hole than, say, winning the lottery ten times in a row, but less likely than being struck by lightning. In fact the odds of a black hole devouring our planet are estimated at one in a trillion.

There are two predominant types of black hole in the universe. The first are supermassive black holes found churning at the centre of galaxies. These don’t really pose any threat to us, until our galaxy collides with another like the Andromeda galaxy in a few billion years.

The other type are interstellar black holes, those formed when a large star goes supernova. These can be just a dozen or so miles across, with one of the closest to us being Cygnus X-1 about 6,000 light-years away measuring 44 kilometres (27 miles) in diameter. If a black hole like Cygnus X-1 were to stray near the Solar System, within a light-year or so, its gravity would cause chaos. The orbits of the outer planets and comets would be significantly and possibly disastrously altered, and this would in turn threaten the orbits of the inner planets and even the Sun. However, if the black hole passed directly through the Solar System, then things get immeasurably worse.

At a distance 100,000 times greater than that between Earth and the Sun, the black hole would pass through the Oort Cloud. It’s possible that this would send a large number of comets hurtling inwards towards Earth and the other planets. Aside from this influx of comets, however, things wouldn’t seem so awry at first.

As the black hole made its way into the Solar System, it would be invisible to us aside from a slight gravitational lensing effect on distant stars. It’s not until it started to tear gas from the outer gas giant planets that a noticeable accretion disk, a region of super-heated dust and gas, would form around the black hole. Now, the terrifying power of the black hole is all too visible to us on Earth.

For an outsider looking in the event would probably be pretty interesting. For us residents on Earth though, uh, not so much...
For an outsider looking in the event would probably be pretty fun to watch. For us residents on Earth though, uh, not so much…
Despite such a black hole being several thousand times smaller than any of the planets, its mass would be several thousand times greater. Thus, any planets unfortunate enough to be caught in its path would be devoured, even those as large as Jupiter. If we couldn’t see the black hole yet, we’d certainly notice the planets suddenly being torn limb from limb.

By the time the black hole reached the asteroid belt between Mars and Jupiter, things would look bleak for us. The intense gravitational pull of the black hole would have torn our planet asunder, causing devastating earthquakes and supervolcanoes the likes of which humanity has never witnessed before. Upon reaching Earth’s orbit our planet is all but doomed, reduced to a smoldering uninhabitable magma-laden rock, with Mercury and Venus soon following suit.

The final battle, between the black hole and the Sun, wouldn’t be quite so one-sided. A gravitational tug of war would ensue and, depending on the initial mass of the black hole, there’s a chance the Sun could survive in some shape or form. Unfortunately, the most likely scenario is that, like the planets, the Sun is ripped apart and joins the planets in the swirling mass of super-heated dust and gas roaring around the black hole. This accretion disk would extend hundreds of thousands or perhaps millions of miles from the relatively tiny black hole at its centre, replacing our Solar System with a circular inferno of the dead inhabitants it once housed.

It’s fortunate, then, that the likelihood of this whole situation occurring is pretty minimal. If you do happen to win the lottery ten times in a row, though, then please let us know so we can duly begin to panic. by Jonathan O'Callaghan

Article from spaceanswers



Blangkejeren | Tanohlinge news – 26-11-2014 Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar Tari Saman Massal yang akan diikuti oleh 5.005 penari. Kegiatan tersebut dirangkai dengan Pameran benda-benda bersejarah Gayo dan seminar mengenai asal usul Budaya Gayo itu.Kegiatan yang dirangkai dengan peresmian Bandara Senubung ini, dipusatkan di Stadion Seribu Bukit.
Persiapan Saman Gayo
Setelah menempuh perjalanan udara selama 45 menit dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Wakil Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf beserta rombongan tiba di Bandara Senubung tepat pukul 10:45 WIB, (Senin, 24/11/2014).
Di Bandara, Wagub diterima langsung oleh Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim S Sos, serta seluruh pejabat dijajaran Pemerintah Kabupaten Gayo Lues serta dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkorpimda) Gayo Lues.
Sementara itu, ratusan masyarakat yang sudah sejak pagi hari berada di Bandara Senubung untuk menyaksikan pendaratan pertama pesawat komersil di daerah mereka langsung menuju ke pesawat untuk melihat lebih dekat apa-apa saja yang terdapat di dalam pesawat tersebut.
Hari ini ada dua pesawat yang mendarat perdana di Bandara tersebut, yang pertama mendarat adalah pesawat Susi Air berkapasitas 16 penumpang yang mengangkut anggota DPR-RI asal Aceh dari Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara dan Pesawat Jenis MAV yang mengangkut rombongan Wakil Gubernur.
Setelah mengikuti prosesi Peusijuek atas peremian Bandara Senubung, Wagub beserta rombongan, di dampingi oleh Bupati Gayo Lues, langsung menuju ke Stadion Seribu Bukit untuk membuka secara resmi Pagelaran Tari Saman Massal dan penyerahan duplikat sertifikat dari Unesco.
Tiba di stadion, Muzakir Manaf disambut oleh ribuan masyarakat dan peserta tari Saman Massal yang telah memadati lokasi acara dengan Salawat Badar.Panasnya matahari yang telah menemani ribuan penari dan penonton tidak membuat mereka beranjak dari lokasi acarademi menyaksikan pemecahan rekor dunia tersebut.
Dalam sambutan singkatnya, Wagub menjelaskan, Pemerintah Aceh sangat mendukung kegiatan yang digagas oleh Pemkab Gayo Lues ini karena kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembangunan daerah ini.
“Rangkaian kegiatan ini merupakan langkah dan upaya kita untuk meningkatkan pembangunan di Aceh, khususnya pembangunan di Kabupaten Gayo Lues ini,” ujar Muzakir Manaf.
Wagubmemaparkan, pengakuan dari United United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), yang secara resmi menyatakan bahwa Tari Saman  merupakan warisan budaya asli dari Tanah gayo, adalah suatu hal yang istimewa.
“Unesco merupakan lembaga resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dikenal sangat berhati-hati dalam memberi pengakuan terhadap sebuah cagar budaya.  Ada banyak negara yang mengajukan permohonan kepada Unescountuk mendapatkan pengakuan atas warisan budaya mereka, tapi Unesco tidak sembarangan memberi pengakuan tersebut.Mereka harus menelusuri asal usul budaya itu, keasliannya, keunikannya serta nilai-nilai sejarah yang ada di dalamnya,” terang Wagub.
Indonesia sendiri baru mendapatkan enam pengakuan dari Unesco untuk warisan budaya kategori tak benda, yaitu  Wayang, Keris, kain Batik, Angklung, Subak di Bali dan Tari Saman yang merupakan  tarian rakyat dari Tanah Gayo. Pengakuan Unesco untuk Tari Saman ini disampaikan dalam sebuah pertemuan di Bali pada 24 November 2011 atau tepatnya tiga tahun yang lalu.
Sebagaimana diketahui bersama, pada September lalu, gubernur bersama sejumlah pejabat Pemerintah Aceh diundang oleh Unescodan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menerima serifikat pengakuan dari Unesco.
“Karena itu, pada hari ini saya datang ke Gayo Lues untuk menyerahkan setifikat tersebut kepada masyarakat Gayo, yang dalam hal ini diwakili Bupati Gayo Lues. Sertifikat itu memang hanya selembar kertas dari Unesco. Tapi di balik semua itu, ada pesan moral yang harus kita pikul ke depan, yaitu tanggungjawab untuk melestarikan dan mengembangkan Tari Saman agar tetap menjadi simbol dan  identitas bangsa,” tambah Mualem.
Sebagai mana kita ketahui, sejarah Tari Saman sangat erat kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di Aceh. Tari ini disebut Tari Saman karena  diciptakan seorang Ulama bernama Syekh Saman pada abad 14 Masehi.
Awalnya  tarian ini merupakan permainan rakyat yang kerap ditampilkan dalam pesta adat dan budaya di tanah Gayo. Karena sangat menarik, tari ini kemudian dikembangkan oleh penciptnya dengan diperkaya syair dan pujian kepada Allah SWT dan kemudian digunakan sebagai media syiar Islam.
Seiring perkembangan zaman, Tari Saman kini menjadi salah satu seni budaya yang banyak dipelajari di sekolah-sekolah.Bukan hanya di Aceh, tapi juga di luar Aceh dan bahkan di luar negeri.  Begitu menariknya, sehingga Tari Saman kerap  menjadi icon Indonesia dalam berbagai festival budaya dunia.
“Pengakuan ini tentu membanggakan kita semua, sekaligus menjadi cemeti agar kita lebih peduli dengan seni budaya lokal. Dengan pengakuan ini, kita akan mendapatkan bantuan teknis dari Unesco untuk kepentingan pelestarian Tari Saman. Yang lebih penting,  pengakuan ini merupakan simbol eksistensi seni budaya dan kekayaan alam Indonesia yang menjadi identitas jati diri bangsa,” tambah Mualem.[Rd] (sumber - lintasgayo)

Monday, 24 November 2014

LINGE NEWS 25-11-2014 Sebenarnya sudah sering sekali pemaparan sepetti ini kita tulis di media cetak atau kita bicarakan secara lisan, tapi masih ada juga yang tak mengerti kejelasan dari isi MoU yang telah ditanda tangani oleh GAM dan RI.

Orang yang paling sering menjelaskan hal ini adalah Nur Djuli, memang dari segi teknis, beliau adalah orang yang paling tepat untuk menjelaskan masalah MoU kepada publik.
Dulu Team kami juga pernah memuat pembicaraan beliau di dalam media sosisal Facebook kedalam  media cetak.  
TEAM JURU RUNDING  GAM 

Kini kami tampilkan kembali pembicaraan beliau dalam media social itu kedalam bentuk tulisan di media cetak.

Tujuan kami tidak ada lain, kami berharap dengan tampilnya tulisan seperti ini, agar lebih mencerahkan lagi pikiran anda tentang isi MoU dan kami berharap juga agar anda bisa mencerna lebih banyak lagi arti atau makn dari isi MoU itu.

Terlebih lagi, kami berharap agar kedepan, anda yang ragu atau tak mengerti isi MoU agar bertanya pada Syehnya, bukan pada penonton, karena Syehnya sudah tentu lebih tau isi syair yang mereka telah lantunkan.

Yang kita lihat selama ini, kebanyakan penonton yang berkoar-koar tentang MoU itu, sehingga banyak silapnya waktu ditanggapi oleh penonton lain. Akhirnya si penonton yang lain ini akan menyalahkan syair yang telah dilantunkan oleh penonton pertama. Dan akan menyimpulkan bahwa syair itu adalah salah total dan yang membuat syair itu orang salah djieb ubat (salah minum obat)

TAK PANDAI MENARI DIKATAKAN LANTAI BERJUNGKAT

Sebenarnya tidak ada yang tersembunyi atau terselubung dalam MoU Helsinki, semua jelas tertulis. Coba baca baris pertama: "Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menegaskan komitmen mereka untuk penyelesaian konflik Aceh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua".

Jadi apa lagi yang tidak jelas di sini, apakah yang dlihat sebagai perbedaan penafsiran dan apanya yang berbeda?
'
Nur Djuli setuju sekali bahwa masih banyak poin2 MoU yang belum dilaksanakan, hal itu bukan berarti tidak difahami atau ditafsirkan berbeda, tetapi tidak dilaksanakan. Banyak poin2 UUPA yang tujuannya adalah untuk melaksanakan MoU berbeda atau bertentangan dengan MoU.'

Ini terjadi karena draft UUPA itu dibuat oleh anggota2 DPR RI asal Aceh, yang bertujuan menjaga kepentingan mereka sendiri (seperti pada mulanya PILKADA langsung untuk Aceh hanya sekali, yang tentu saja bertentangan dengan MoU pasal 1.1.2. Celakanya, orag di Partai Aceh waktu itu juga mempertahankan UUPA yang katanya "sakral"  atau  ”harga mati”, bukannya MoU, untung ada kawan2 dari partai SIRA yang bawa ke MK). Draft UUPA yang saya buat dengan kawan2 SIRA, draft dari 4 universitas Aceh, draft dari PEMDA (Azwar Abubakar) semua diketepikan.

Kesimpulannya, kalau orang Aceh sendiri lebih mementingkan kepentingan kelompok dari bangsa, maka hasilnya beginilah, ujung2 salahkan MoU. kata orang Melayu ”Tidak pandai menari dikatakan lantai berjungkat”.

Soal bendera dan lain lain sebenarnya adalah soal yang paling simple tetapi kita sendiri yang membuat masalah itu menjadi rumit. Dalam MoU sudah jelas ada enam otoritas yang Aceh BERIKAN pada Pemerintah Pusat (pasal 1.1.2a: "Aceh akan melaksanakan kewenangan dalam SEMUA sektor publik, yang akan diselenggarakan bersamaan dengan administrasi sipil dan peradilan, KECUALI dalam bidang hubungan luar negeri, pertahanan luar, keamanan nasional, kekuasaan kehakiman, hal ekhwal moneter dan fiskal, dan kebebasan beragama, dimana kebijakan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan Konstitusi".

Soal bendera: apakah itu termasuk dalam otoritas yang 6 itu? Kalau tidak maka mengapa begitu bodoh minta izin Pemerintah Pusat untuk menaikkannya? Kalau tidak dibenarkan oleh UUPA, UUPA itulah yang harus diubah karena bertentangan dengan MoU.

UUPA dibuat untuk menterjemahkah MoU dakam undang-undang supaya bisa dilaksanakan. Kalau terjemahan tidak sesuai dengan teks asli, apakah teks asli yang tidak betul? MoU hanya perlu patuh kepada KONSTITUSI, bukan pada UU lain, apalagi pada kehendak Mendagri.
'
Kalau yang sudah hak kita masih kita pergi mengemis ke Jakarta, maka salah siapa? Kalau hal2 begini saja masih tidak mau mengerti, mau bagaimana lagi?  Nur Djuli melihat kawan-kawan begitu pandai berdebat di media sosial,  tetapi mengapa susah sekali memahami hal yang begini simple? Sudahkan anda membaca MoU atau hanya dengar2an saja?

Pasal 2.3 MoU: "Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi akan dibentuk di Aceh oleh Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Indonesia dengan tugas merumuskan dan menentukan upaya rekonsiliasi". KKR RI telah lahir dengan UU no. 27/2004. Tetapi uu ini telah dibatalkan oleh MK atas permintaan beberapa ormas HAM karena adanya sebuah kalimat yang dikuatirkan akan menghilangkan hak konstitusi para korban untuk menuntut pelanggar HAM ke pengadilan. Namun PemRi sampai sekarang belum mengajukan uu ini kembali ke DPR untuk disahkan hanya dengan mencoret satu kalimat tersebut, Jelas ada pressure terhadap pemerintah RI untuk tidak membuat uu ini kembali.

Baru2 ini ada usaha membentuk KKR lokal di Aceh, dan kalau saya tak salah, kanun KKR Aceh sudah disahkan oleh DPRA. Secara pribadi saya tidak setuju hal ini karena ini memberi kesempatan pada PemRi untuk cuci tangan dalam hal pelanggaran HAM berat di Aceh oleh alat negara RI. Kalau hanya KKR lokal, apakah mungkin Pemerintah Aceh, tanpa penyertaan Pemerintah Pusat, untuk meminta tanggungjawab dari para pelanggar HAM alat negara RI? Jadinya kita terperangkap dalam jerat sendiri. 

Nur Djuli berharap saya keliru dalam hal ini dan Kanun KKR lokal bisa mencapai tujuan seperti yang diharapkan, yaitu paling kurang memberi kompensasi kepada para korban, Pasal 1.3.4: "Aceh berhak MENGUASAI 70% hasil dari semua cadangan hidrokarbon dan sumber daya alam lainnya yang ada saat ini dan di masa mendatang di wilayah Aceh maupun laut territorial sekitar Aceh". 

Ketika Oemerintahan Irwandi, timbul masalah tentang jumlah hasil yang harus dibagi. Kita semua tau, kalau hasilnya 1000 ton dibilang hanya 100, Aceh hanya akan dapat 70 ton, bukan 700. Hal ini sudah kami antisipasi di Helsinki, makanya dalam artikel 1.3.8, ditentutakan: "Pemerintah RI bertekad untuk menciptakan transparensi dalam pengumpulan dan pengalokasian pendapatan antara Pemerintah Pusat dan Aceh dengan menyetujui auditor luar melakukan verifikasi atas kegiatan tersebut dan menyampaikan hasil-hasilnya kepada Pemerintah Aceh".

Penunjukan auditor luar ini masih selalu ditolak oleh Pemerintah Pusat dan karenanya pembagian hasil Migas tidak dapat dilaksanakan. Itu yang saya ketahui ketika saya masih sedikit terlibat dalam pemerintahan Aceh sebagai ketua BRA. Dalam hal ini Nur Djuli tidak mengetahui bagaimana situasinya sekarang.

Soal perbedaan antara "Kesefahaman" dan "Perjanjian", Nur Djuli  mengutip kata2 Ahtisaari: "Tidak ada kuasa di dunia ini yang bisa memaksa pelaksanaan sebuah perjanjian walaupun dibuat sedetail-detailnya, kalau ada pihak yang tidak ikhlas melaksanakannya dengan jujur". MoU ini yang ditandatangani oleh wakil para pihak di depan mata seluruh dunia, dan kemudian disahkan oleh DPR-RI, adalah sebuah dokumen yang menyatakan komitmen bulat kedua belah pihak untuk melaksanakannya. Kalau satu pihak gagal melaksanakannya maka ini akan memberi hak kepada pihak yang lain untuk tidak mematuhinya juga, kalau itu terjadi maka berakhirlah kesepakatan ini. Itukah yang dikehendaki Pemerintah Pusat atau kita di Aceh?

Akhirnya Nur Djuli berharap agar kita tidak seharusnya jangan mau dihanyutkan oleh kata2 semu ketika garisan yang jelas kedudukannya sudah ada. Ketika DPR RI mengesahkannya maka disitulah letak kekuatan hukumnya. DPR itu adalah PEMBUAT hukum Indonesia. MOU Helsinki disahkan dengan suara bulat, tanpa oposisi dan tanpa perubahan. dengan sendirnya itu menjadi kewajiban Pemerintah menjakankannya.

Yang buat UU itu kan DPR, pemerintah, apalagi para perunding RI tidak punya wewenang untuk bikin UU. Kami percaya bahwa Kesefahaman itu akan disahkan oleh DPR karena waktu itu majoritas di DPR adalah GOLKAR dan DEMOKRAT, dua2nya partai yang memerintah yang teken MOU. Kita juga harus melihat kondisi di lapangan. Lebih 200 000 rakyat sudah syahid dalam tsunami, ratusan ribu lagi terancam kelaparan karena bantuan tidak bisa masuk dengan lancar akibat adanya konflik, 50 000 TNI bertindak sesukA hati di seluruh pelisok Aceh. 

Apakah kita punya banyak pilihan sebagai alternatif dari berdamai? Sekarang Aceh sudah damai, penerintahan kita pegang sendiri, anda semua bisa debat bebas di FB, bisa demo... Memang situasi damai ini belum sempurna dan banyak yang masih perlu dibereskan. Tetapi apapun tidak akan beres kakau kita bersikap negatif dan mencari siapa yang salah dan bukan berusaha membetulkan.

DI tulis oleh Johan Mahaga


Katagori Berita

Budaya

Arsip Web Linge

Berita Terbaru

Sahabat Tanhoh Linge

Kata kata bijak

"Education is the most powerful weapon which you can use to change the world"
Nelson Mandela